Sin-tak-dir

“Jika segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah dalam catatanNya (arah gerak angin, tiap butir hujan yang menimpa bumi, bahkan daun yang jatuh sekalipun) lantas untuk apa kita berusaha? Untuk apa kita berdo’a? Apakah itu berarti, misalnya, suami-istri yang bercerai juga sudah ditetapkan oleh Allah harus bercerai?”

Hah? Saya bengong. Kang Donny, begitu saya memanggilnya, berkisah soal temannya yang galau dan mengajukan pertanyaan di atas.

Kang Donny ini sarjana ilmu komputer. Atau informatika. Saya kurang paham. Yang pasti, salah satu kebisaannya adalah membetulkan OS (operating system) di komputer kantor kami atau laptop inventaris jika ada masalah.

Dan cara Kang Donny menjawab pertanyaan temannya yang galau itu menurut saya tidak biasa. Saya susah menyebutnya luar biasa karena saya cuma sok-paham dengan penjelasannya. Daripada saya bikin bingung dengan menceritakannya menggunakan bahasa saya sendiri, mending saya kutip langsung uraian Kang Donny soal takdir.

“Satu hal yang menjadi sorotan saya adalah pemahaman mengenai ‘catatanNya’. Apakah catatan/ketetapan itu menentukan bagaimana ‘pastinya’ kehidupan seseorang dari sejak lahir sampai meninggal? Misal, si A sudah dipastikan untuk menjadi pengacara, si B sudah dipastikan jadi pelacur, atau si D sudah dipastikan mati karena dibunuh. Jika seperti itu kenyataannya, Anda berhak untuk mengatakan bahwa Allah tidak adil. Akan tetapi, logika sederhana saya tidak ‘mengatakan’ seperti itu.”

“Menurut saya, isi catatanNya berbentuk persis seperti jaring laba-laba (web), atau jaringan jalan atau dalam Ilmu komputer dikenal dengan konsep tree. Setiap titik dan detik kehidupan yang kita lalui berisi berbagai macam pilihan. Misal, kita bertemu dengan seseorang yang menarik hati kita di angkot, ada berbagai kemungkinan yang bisa kita lakukan. Kita bisa mencoba berkenalan, bisa juga cuma sekedar ‘ngelihatin’ aja, kita cuekin, kita beri senyuman, atau misalnya kita tampar. Itu semua adalah berbagai macam kemungkinan yang bisa kita lakukan. Pilihan manapun yang kita ambil, akan memberikan ‘efek’ yang berbeda dalam hidup kita.

Jika kita berkenalan, bisa jadi kita dapat nomor telepon rumahnya. Namun, jika kita tampar dia, tentu hasilnya belum tentu sama. Nah, berbagai kemungkinan inilah yang sebenarnya menjadi catatanNya tersebut.”

“Lebih mudah jika kita memisalkan sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Kita hanya boleh memilih satu jalan, kita tidak pernah tahu apa yang ada di sepanjang jalan-jalan tersebut. Sekali kita memilih salah satu jalan yang ingin, kita tidak bisa kembali. Setiap jalan berakhir pada ujung yang berbeda.

Adakalanya, di jalan yang kita pilih, kita dihadapkan lagi dengan persimpangan lain. Terus seperti itu. Suka atau tidak suka dengan ‘pemandangan’ dan ‘fasilitas’ yang ada di jalan yang kita pilih, itulah pilihan kita. Itulah takdir kita. Perkaranya adalah kita dituntut untuk memilih jalan yang benar, jika pilihan kita salah, maka dipastikan kita akan menyesal selamanya. Nah, untuk memilih jalan yang benar tersebut, Allah sudah menempatkan petunjukNya.

Seringkali kita sudah tahu dengan petunjuk tersebut, tapi kita sering mengabaikan petunjuk tersebut. Inilah yang menjadikan seseorang tersesat di suatu jalan.”

“Jadi, sebetulnya untuk satu orang saja, ada berbagai macam kemungkinan yang dicatat olehNya. Ada berjuta kemungkinan yang bisa terjadi dalam diri kita, segalanya tergantung pilihan-pilihan kita. Satu pilihan kita ambil, itulah yang menjadi takdir kita. Allah hanya menetapkan berjuta-juta pilihan dan hasil dari pilihan tersebut dalam catatanNya, kita lah decision maker nya.

Maka, disinilah luar biasanya Allah. Untuk satu orang saja ada jutaan kemungkinan, apalagi mengatur kemungkinan-kemungkinan berjalannya alam semesta ini. Itu berarti ada jutaan kemungkinan juga bagaimana kehidupan manusia ini bisa berjalan.”
“Maka, dengan konsep ini, saya meyakini ada ribuan kemungkinan kita menikah dengan orang yang berbeda, ada jutaan kemungkinan cara kita mati, ada jutaan kemungkinan juga kita mendapatkan rezeki. Semuanya tergantung kepada apa yang menjadi pilihan kita.

Pilihan manapun yang kita ambil, Allah sudah tahu bagaimana nasib kita selanjutnya, karena Allah sudah mencatat kemungkinan-kemungkinan itu. Dengan kata lain, mungkin, Allah hanya sedang ‘menonton’ saja saat ini, karena segala kemungkinan sudah tercatat. Sementara 2 malaikat yang setia mengikuti kita hanya membantu ‘menandai’ pilihan kita, persis seperti kita mengerjakan pilihan berganda, hanya saja pilihannya luar biasa banyaknya.”

“Satu hal yang paling menarik dari konsep ini adalah bahwa kematian selalu terselip di setiap kemungkinan itu. Di setiap ‘persimpangan jalan’, kita selalu dihadapkan dengan pilihan atau kemungkinan untuk mati. Sungguh benar apa yang Rasulullah ajarkan bahwa kematian sangat dekat dengan kita. Dengan kata lain, dalam setiap detik yang kita lalui, kita selalu dihadapkan dengan kemungkinan untuk mati. Itu artinya, bagaimana kita mati ditentukan juga oleh pilihan-pilihan hidup kita. Dengan kata lain, mati juga bisa menjadi pilihan kita. Maka, kemudian kita kenal mati khusnul khotimah dan su’ul khotimah dalam Islam. Kedua jenis kematian tersebut tergantung dengan apa yang kita lakukan selama hidup kita. Oleh karena itu, kematian khusnul khotimah bisa diusahakan. Bahkan, ‘kemungkinan’ anda bunuh diri setelah membaca tulisan ini pun sudah tercatat. Hal ini juga berarti bahwa panjang umur juga bisa diusahakan.”

“Sebagai contoh, seseorang yang mati karena gangguan jantung yang diakibatkan oleh tidak pernah berolahraga. Jika saja orang tersebut sering melakukan olahraga, maka belum tentu orang tersebut mati karena gangguan jantung. Atau orang yang mati karena tertabrak kereta, dia akan tetap hidup jika tidak berjalan di rel kereta tersebut. Namun, di titik manapun kita berada saat ini, toh kita tetap tidak pernah tahu bagaimana dan kapan kita mati, tapi Allah bahkan sudah menetapkan seluruh kemungkinan kondisi kematian kita.”

“Kemungkinan kita berdo’a juga sudah tercatat dalam catatanNya. Oleh karena itu, menurut saya, bentuk pengabulan do’a tersebut pun sudah tercatat. Bagaimanapun, berdo’a juga adalah sebuah pilihan. Benarlah sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa do’a setiap hamba itu dipastikan terkabul, kecuali orang-orang yang ‘memakan’ harta haram. Jadi, terkabul atau tidaknya do’a yang kita ucapkan kepada Allah juga tergantung dari bagaimana kondisi kita ketika berdo’a.”

“Saya sempat tersentak ketika menyadari bahwa ternyata, jika apa yang saya pikirkan benar, Allah ‘menulis’ catatanNya persis seperti seorang programmer membuat program. Dan konsep yang digunakan adalah tree atau menggunakan if-bersarang (nested-if).

Dalam dunia pemrograman komputer, konsep if merupakan salah satu ‘nyawa’ dari suatu pemrograman komputer. Bisa dipastikan, seluruh program (software) yang kita pakai menggunakan kondisional if dalam proses pengolahan datanya. If digunakan untuk melakukan pemilihan terhadap suatu kondisi. Sederhananya, kondisional if digunakan sebagai pengambil keputusan. Berikut ini saya gunakan sintak script PHP untuk memberikan gambaran, bagi yang tidak ‘tertarik’ membaca sintak di bawah ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya, namun bagi para programmer, saya yakin sintak di bawah ini sudah tidak asing lagi.”

<?php
$value = 10; // variabel value diberi nilai 10
if ( $value <= 5 ) { /*cek value, apakah nilai pada variabel
value kurang atau = 5?*/
echo “Anda tidak lulus kuliah”; /* jika ya, ditampilkan
tulisan ‘Anda tidak lulus kuliah’ */
} else {
echo “Anda lulus kuliah”; /* jika tidak, maka akan ditampilkan
tulisan ‘Anda lulus kuliah’ */
}
// karena $value bernilai 10, maka pesan yang
akan ditampilkan adalah ‘Anda lulus kuliah’
?>
Adapun if-bersarang (nested-if) merupakan if yang berada di dalam if. Contoh:
<?php
// … bla bla bla ….if ( $sex == ‘pria’ ) { // awal dari if pria (level I)
if ( $kulit == ‘merah’ ){ // level II
echo “Anda seorang pria keturunan indian ya?”;
}else if ( $kulit == ‘kuning’ ){ // level II
echo “Anda seorang pria keturunan china ya?”;
}else if ( $kulit == ‘hitam’ ){ // level II
echo “Arang kali ya?”;
}
} // akhir dari if pria
if ( $sex == ‘wanita’ ) { /* awal dari if wanita (level I),
satu level dengan if pria */
if ( $kulit == ‘hitam’ ){ // level II
echo “Sering-sering pake pemutih dong, non!!”;
}else if ( $kulit == ‘coklat’ ){ // level II
echo “Masih mendingan lah…”;
}
} // akhir dari if wanita
?>

“Dari sintak program di atas, alur ceritanya begini… Program akan memeriksa, apa jenis kelamin anda? Ada 2 pilihan di sana, pria dan wanita. Jika kita menjawab pria, kita diberi pilihan lagi, ada 3 pilihan warna: merah, kuning dan hitam. Pesan yang dimunculkan, tegantung dari 2 jawaban kita sebelumnya. Dari 2 ‘pertanyaan’ itu saja, kita memiliki 1 dari 5 kemungkinan jawaban. Namun, yang jelas, kita hanya akan mendapatkan 1 jawaban. Dalam hidup, 1 jawaban itulah yang kemudian dinamakan takdir kita. Bedanya dengan program komputer adalah kita tidak bisa kembali lagi untuk mendapatkan jawaban yang berbeda. Sekali kita mendapatkan jawaban itu, sudah, pilihan lain hilang. Sementara pada program komputer, kita bisa memberikan input dan menghasilkan output yang berbeda setiap saat.”

“Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya ‘program’ yang Allah buat. Bahkan jika jutaan komputer digabungkan untuk bekerja ‘menjalankan program’ Allah tesebut, saya jamin tidak akan pernah bisa. Berbeda dengan program buatan manusia, program buatan Allah dipastikan tidak memiliki ‘bug’ sama sekali. Semuanya berjalan sesuai dengan rencanaNya. Dengan cara seperti ini, saya juga bisa lebih mudah memahami apa yang dimaksud dengan ‘kehendak Allah’, persis sama dengan bagaimana seorang programmer merancang program yang dibuatnya. Bagaimana program itu dirancang, bagaimana pengolahan data pada program tersebut, semuanya terserah pada programmer tersebut.”

“Dengan kata lain, apapun yang dikehendaki oleh programmer, semuanya ‘dituliskan’ dan ‘dicurahkan’ dalam program tersebut. Suka-suka programmer, itulah ‘kehendak programmer’, programmer rules!! Dengan begitu, programmer tersebut sudah tahu bagaimana program yang dibuatnya akan bekerja. Sedangkan user harus membaca manual book terlebih dahulu untuk bisa menjalankan program tersebut dengan benar. Dalam kehidupan kita, Allah adalah programmernya, manusia adalah usernya, kehidupan ini adalah programnya dan manual booknya adalah Al-Quran. Bagaimana user menggunakan programnya, itu semuanya menjadi tanggung jawab user. Bagaimana seseorang menggunakan ‘kehidupannya’, semuanya tanggung jawab manusia itu sendiri. Programmer tidak bertanggung jawab atau tidak bisa disalahkan dalam penyalahgunaan program oleh user.”

“Seorang programmer akan memberikan warning (peringatan) dalam programmnya apabila seorang user melakukan kesalahan dalam pengolahan data. Misalnya, salah input tipe data atau mencoba memasuki area yang terlarang. Dengan cara seperti ini, user bisa memahami, memperbaiki dan tidak mengulangi lagi kesalahannya tersebut. Begitu juga dengan apa yang Allah lakukan terhadap manusia. Adakalanya peringatan dari Allah sangat lembut, namun adakalanya terasa sangat keras. Semuanya tergantung dari besar kecilnya kesalahan yang kita lakukan.”

Saya dititipi pesan oleh Kang Donny, bahwa uraiannya ini asalnya dari hasil perenungan. Kang Donny merasa, tidak ada yang bertentangan dengan Kitab Suci. Namun, pemikiran ini katanya bukanlah bentuk final. Suatu saat bisa berubah jika mendapatkan kritikan atau tambahan yang diyakini kebenarannya. Kesempurnaan hanyalah milik Allah..

(Sumber utama: http://mind.donnyreza.net/seri-takdir/. Nuhun atas perkenannya dipetik, Kang Don.. 🙂 )

Advertisements

Published by

Zain

An Anomalist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s